PT.Perkebunan Nusantara
BAB 1 Latar Belakang dan Perumusan Masalah
1.1. Latar Belakang
PT. Perkebunan Nusantara adalah badan usaha yang beroperasi dibidang perkebunan di seluruh Indonesia yang memiliki empat belas badan usaha milik negara, salah satunya adalah PT. Perkebuanan Nusantara VIII atau disingkat PTPN VIII yang bergerak dibidang perkebunan teh, karet, kina, kakao, kelapa sawit, dan getah perca. PTPN VIIIsaat ini mengelola 41 kebun dan satu unit rumah sakit, yang tersebar di 11 Kabupaten atau Kota di Jawa Barat dan dua Kabupaten di Provinsi Banten. Pada provinsi Jawa Barat yaitu di Kabupaten Bandung Barat perkebuanan teh panglejar memiliki 12 daerah perkebunan.
Kelancaran dari pelaksanaan proses produksi merupakan suatu hal pokok yang harus dicapai. Salah satu fungsi yang memiliki peranan yang sangat penting dalam menjamin kelancaran pelaksanaan kegiatan produksi adalah perawatan mesin dan fasilitas mesin-mesin produksi yang digunakan, oleh sebab itu suatu perusahaan harus selalu mengusahakan mesin-mesin dan fasilitas dalam kondisi yang terbaik sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar.
Terhentinya suatu proses produksi sering kali disebabkan adanya masalah dalam mesin atau peralatan produksi, misalnya mesin terhenti secara tiba-tiba, menurunnya kecepatan produksi mesin, lamanya waktu set up dan adjusment, 2 mesin menghasilkan produk yang cacat dan mesin beroperasi tidak optimal. Hal ini akan menimbulkan kerugian pada perusahaan karena selain dapat menurunkan tingkat efisiensi dan efektivitas mesin, hal ini juga dapat mengakibatkan adanya pengeluaran biaya yang lebih besar akibat kerusakan mesin tersebut.
PT. Perkebunan Nusantara VIII cabang Panglejar merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi teh yang tidak lepas dari masalah efektivitas mesin produksi. Perusahaan sering mengalami permasalahan breakdown pada mesin yaitu suatu kondisi dimana mesin tersebut sudah tidak mempunyai manfaat baik secara teknis maupun ekonomis. Hal tersebut dapat menghambat jalannya proses produksi yang berdampak pada penurunan kapasitas produksi. Pada saat melakukan penelitian dapat diketahui pada PTPN VIII menerapkan sistem pemeliharaan corrective maintenance, yaitu melakukan perbaikan ketika terjadi kerusakan, oleh karena itu diperlukan langkah-langkah untuk mengatasi masalah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dari permasalahan yang telah dikemukakan, maka peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut
- Bagaimana kebijakan preventive maintenance di PT. Perkebunan Nusantara VIII.
- Bagaimana kebijakan Corective maintenance di PT. Perkebunan Nusantara VIII.
- Seberapa besar perbedaan antara perhitungan biaya pemeliharaan yang dilakukan oleh penulis dengan perhitungan biaya pemeliharaan yang dilakukan PT. Perkebunan Nusantara VIII.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan oleh penulis maka masalah yang terjadi dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
- Perusahaan selalu mengalami permasalahan breakdown sehingga menghambat jalannya proses produksi yang berdampak pada penurunan kapasitas mesin.
- Perusahaan menerapkan pemeliharaan correktive maintenance ketika terjadi kesalahan sehingga ketika mesin rusak proses produksi terhenti. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir perusahaan mengalami total kerusakan mesin sebanyak 47 kali.
- Mesin Whithing Trough dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami total kerusakan sebanyak 30 kali.
- Kondisi mesin yang sudah tua dari sejak tahun 1980 dan belum adanya pembaharuan mesin produksi teh
BAB 2 Kejian dan Evaluasi Profensi
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III tengah mengembangkan teknologi pertanian presisi atau precision agriculture, yakni ketepatan perhitungan teknik penanaman dengan menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) University dan PT Riset Perkebunan Nusantara.
"Penerapan Precision Agriculture ini merupakan revolusi 4.0 pada bidang perkebunan, bertujuan mengoptimalisasi kualitas dan saving cost pada kegiatan perkebunan," ujar Corporate Secretary Holding PTPN III, Irwan Perangin-Angin saat dihubungi ANTARA di Bogor, Jawa Barat, Jumat.
Ia menerangkan, pertanian presisi merupakan metode maksimalisasi penggunaan input tanaman berupa pestisida dan pupuk sesuai kebutuhan, sehingga tidak ada berdampak kelebihan dosis dalam mengaplikasikannya.
1.5 Evaluasi Profensi
mencakup peranan dan tujuan auditor internal, tetapi juga mengakomodasikan kesempatan dan tanggung jawab. Audit internal yaitu status aktivitas penilaian yang bebas atau independen dalam organisasi perusahaan untuk meneliti kembali dalam bidang akuntansi, keuangan dan bidang lain-lain sebagai dasar memberikan servis pada manajemen. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pengaruh profesionalisme, etika profesi, indepedensi, motivasi dan komitmen organisasi terhadap auditor internal pada PT.Perkebunan Nusantara IV Medan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah auditor pada PT. Perkebunan Nusantara IV Medan sebanyak 30 auditor. Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 responden. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) profesionalisme berpengaruh terhadap kinerja auditor internal(2) etika profesi berpengaruh terhadap kinerja auditor internal; (3) indepedensi berpengaruh terhadap kinerja auditor internal; dan (4) motivasi berpengaruh terhadap kinerja auditor internal dan (5) komitmen organisasi berpengaruh terhadap kinerja auditor internal.
BAB 3 Kesimpulan dan Saran
1.6 Saran
- PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan seharusnya mengurangi jumlah dana yang tertanam pada persediaan sehingga dana dapat terus berputar dan perusahaan lebih cepat memperoleh dana yang lebih likuid pada saat membayar hutang jatuh tempo.
- Hutang lancar yang semakin meningkat tanpa diimbangi peningkatan aktiva lancar akan menggangu stabilitas modal kerja, dan tingkat likuiditas perusahaan. Sebaiknya PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan harus menurunkan atau mengurangi jumlah hutang lancar dengan meningkatkan penjualan.
- Untuk menghindari adanya over investment dalam pengelolaan piutang, sebaiknya perlu diperimbangkan lagi pengelolaan kredit dan penagihan ataupun mempertimbangkan kembali kebijaksanaan kredit.
- Dengan tingkat rentabilitas yang rendah, sangat besar kemungkinan investor jangka pendek akan menarik investasinya dan beralih ke perusahaan lain. Untuk itu PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan harus mencari solusi pemecahannya, misalnya dengan meningkatkan penjualan.
- Seabaiknya PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan mengurangi tingkat hutang sehingga investasi dalam aktiva yang dibiayai oleh hutang tidak terlalu besar.
- Walaupun menurut indikator penilaian kesehatan BUMN, nilai PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan masih berada pada kondisi sehat, sebaiknya PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan juga harus memperhatikan laporan keuangan perusahaan sebagai salah satu dasar penilaian kinerja keuangan perusahaan. Analisis atas rasio keuangan perusahaan merupakan langkah awal bagi pimpinan untuk merumuskan kebijaksanaan.
- Nilai Net Profit Margin (NPM) pada PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan selama tahun 2014-2016 mengalami peningkatan. Meskipun mengalami peningkatan, nilai Net Profit Margin tersebut masih berada dibawah rata-rata industri sehingga perusahaan dikatakan kurang baik. Namun demikian, peningkatan pada nilai NPM ini menunjukkan cukup efektifnya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari penjualan.
- Nilai Total Assets Turnover (TATO) pada PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan mengalami penurunan pada tahun 2015 dan mengalami peningkatan pada tahun 2016. Meskipun mengalami peningkatan pada tahun 2016, nilai Total Assets Turnover selama tahun 2014-2016 masih berada di bawah rata-rata industri sehingga perusahaan dikatakan kurang baik. Adanya penurunan pada nilai Total Assets Turnover ini menunjukkan kurang efektifnya perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk memperoleh pendapatan.
- Nilai Return On Investment (ROI) pada PT. Perkebunan Nusantara III (Persero) Medan mengalami penurunan pada tahun 2015 dan mengalami peningkatan pada tahun 2016. Meskipun mengalami peningkatan pada tahun 2016, nilai Return On Investment selama tahun 2014-2016 masih berada di bawah rata-rata industri sehingga perusahaan dikatakan kurang UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 47 baik. Adanya penurunan pada nilai Return On Investment ini menunjukkan kurang efektifnya perusahaan dalam mengelola asetnya.
Komentar
Posting Komentar